Senin, 25 Agustus 2014

Kata Bijak

Dia menyakitimu?
ia..
Kamu kecewa?
tentu saja..
Kamu ingin membalasnya?
tidak..
Mengapa?
tepat pada waktunya dia akan merasakan apa yang pernah aku rasakan saat dia merasakan kehilangan seseorang yang telah dia sia-siakan, saat itulah dia menyadari bahwa sebenarnya seseorang itulah yang harus dia pertahankan dan saat itulah dia datang memintamaaf ketika aku sudah bahagia dengan yang lain :)


Sabtu, 23 Agustus 2014

Tuhan memberikan apa yang kita perlu ukan yang kita inginkan

Terkadang kita merasa tak ada jalan terbuka, tak ada lagi watu terlmabat sudah.
keputus asaan sering melanda, kita sering egois dalam doa.
Kita menuntut agar doa kita cepat dikabulkan, padahal doa itu ada 3 jawabannya.
1. Tunggu dulu
2. langsung dikasih
3. tidak bisaa

Terkadang kita hanya meminta yang kita mau, padahal Tuhan menyiapkan yang kita butuhkan.
Apa yang kita mau belum tentu yang terbaik bagi kita :)
maka dari itu kita harus bersyukur dalam segala hal. Meskipun sulit tapi haruss.

Hidup memang berat.
Tuhan yang menentukan , kita yang jalani ehh orang lain yang mengomentarii.. hhhaa

Irene Suryani 24 Agustus 2014

Matre itu perlu

Inta itu bukan harta, tapi butuh biaya :)
Matre itu erlu asal jangan berlebihan..
cuma cowo KERE yang ngatain kalau cewe itu MATRE..

Jaman sekarang itu yang penting uang, tampang mah nomor 2 hhaa
tapi kalau gw yahhh gk mau asal banyak duit, tampang juga harus nunjang dongg..
entar kalau cowonya jelek, anaknya juga ikutan jelek hahahaaaa

Minggu, 28 April 2013

CARA TERBAIK UNTUK MEMBALAS DENDAM



Cara terbaik untuk membalas dendam kepada orang yang “mencuri kekasih” anda, adalah mengikhlaskan kebersamaan mereka berdua.

Karena, jika dia kekasih yang baik, dia tak akan menghianati anda.
sehingga , orang yang mencuri kekasih anda, sebetulnya mencuri seorang penghianat.

Lalu.?
mwngapa andabersedih dan memburukkan kehidupan anda sendiri karena menyesali perginya orang yang tidak baik??

damaikanlah hati anda..

Penghianatan adalah cara yang tidak enak rasanya untuk menyelamatkan anda .

Selasa, 11 Desember 2012

Aluk Sanda Pitunna


 

Aluk Todolo adalah agama leluhur nenek moyang suku Toraja yang hingga saat ini masih dipraktekkan oleh sejumlah besar masyarakat Toraja. Bahkan pada tahun 1970, Aluk Todolo sudah dilindungi oleh negara dan resmi diterima ke dalam sekte Hindu-Bali. Aluk Todolo adalah kepercayaan animisme tua, dalam perkembangannya Aluk Todolo banyak dipengaruhi oleh ajaran-ajaran hidup Konfusius dan agama Hindu. Oleh karena itu, Aluk Todolo merupakan suatu kepercayaan yang bersifat politeisme yang dinamistik.

 Kepercayaan Aluk todolo ini bersumber dari dua ajaran utama yaitu aluk 7777 (aluk sanda pitunna) dan aluk serba seratus (sanda saratu').


Aluk Sanda Pitunna (aluk 7777) disebarkan oleh Tangdilino' dan merupakan sistem religi yang diyakini oleh orang Toraja sebagai aluk yang diturunkan dari langit bersama-sama dengan umat manusia. Oleh karena itu, Aluk Sanda Pitunna adalah aluk tertua dan menyebar secara luas di Toraja. Sementara itu, Aluk Sanda Saratu' datang kemudian dan disebarkan oleh Puang Tamborolangi', namun Aluk Sanda Saratu' hanya berkembang didaerah Tallu Lembangna (Makale, Sangalla dan Mengkendek).
Aluk Sanda Pitunna bersumber dari ajaran agama (sukaran aluk) yang meliputi upacara (aluk), larangan (pemali), kebenaran umum (sangka') dan kejadian sesuai dengan alurnya (salunna). Aluk sendiri meliputi upacara yang terdiri atas tiga pucuk dan empat tumbuni (aluk tallu lolona, a'pa' pentaunina). Disebut tiga aIuk karena ia meliputi upacara yang menyangkut manusia (aluk tau), upacara yang menyangkut tanam-tanaman (aluk tananan) dan upacara yang menyangkut binatang (aluk patuan) dan dikatakan empat oleh karena di samping ketiga hal di atas ada lagi satu upacara yang disebut upacara suru' berfungsi untuk menembus kesalahan (pengkalossoran).

 Wilayah barat

Tokoh penting dalam penyebaran aluk ini di wilayah barat Tana Toraja yaitu : Pongkapadang bersama Burake Tattiu’ yang menyebarkan ke daerah Bonggakaradeng, sebagian Saluputti, Simbuang sampai pada Pitu Ulunna Salu Karua Ba’bana Minanga, dengan memperkenalkan kepada masyarakat setempat suatu pranata sosial yang disebut dalam bahasa Toraja “to unnirui’ suke pa’pa, to ungkandei kandian saratu yakni pranata
sosial yang tidak mengenal strata.

Wilayah timur

Di wilayah timur Tana Toraja, Pasontik bersama Burake Tambolang menyebarkannya ke daerah Pitung Pananaian, Rantebua, Tangdu, Ranteballa, Ta’bi, Tabang, Maindo sampai ke Luwu Selatan dan Utara dengan memperkenalkan pranata sosial yang disebut dalam bahasa Toraja : “To Unnirui’ suke dibonga, To unkandei kandean pindan”, yaitu pranata sosial yang menyusun tata kehidupan masyarakat dalam tiga strata sosial.

Wilayah tengah

Tangdilino bersama Burake Tangngana menyebarkan aluk ke wilayah tengah Tana Toraja dengan membawa pranata sosial “To unniru’i suke dibonga, To ungkandei kandean pindan”. Sesuai dengan makna dan kandungan yang terdapat di dalam sistem kepercayaan Aluk Todolo, terdapat sejumlah hal yang relevan dengan pengelolaan dan pelestarian lingkungan hidup. Jika ditelusuri jejak referensi adanya konsep pelestarian dan pengelolaan lingkungan hidup bagi orang Toraja, ditemukan bahwa pengelolaan dan pelestarian lingkungan hidup bagi orang Toraja, pertama diatur dalam sistem religi yang ada dan hal itu meliputi hampir seluruh ritus yang dilaksanakan.

OssoranTempon Daomai Langi'

Toraja (yang konon leluhurnya berasal dari langit) :
OSSORAN TEMPON DAOMAI LANGI'
(naosso' Ne' Mani', to minaa daomai Sereale)



1. Langi'mo mula-mulanna sola tana. Nagaragai ampunna tana,ampunna lino. / Sirampanammi kapa' langi' na tana. Dadimi tau a'pa',iamo tu: disanga Puangdilalundun, disanga Labiu-biu, disanga Indo' Ongon-Ongon, disanga Simbolongpadang. /
2. Malemi Simbolongpadang sirampanan kapa' Riba'. / Unggaragami kila', unggaragami sanda kadake, sisarakmi langi' na tana. / Ma'kornbongammi tu tau tallu, nakua: "Unggaragamo kadake siulu'ta — na mindamoki' ungkambi' tutungan bia'?" / Disituru'imi tu Labiu-biu ungkambi' tutungan bia'. /
3. Malemi tu Indo' Ongon-Ongon rokko to kengkok, sirampanan kapa' Pong Tulakpadang. / Unggaragami lino', usseno padang, unggaragami angin, unggaragami bongi. / Malemi Puangdilalundun langngan langi' sirampanan kapa' Gauntikembong, dadimi Pong Bero-Bero. /
4. Unggaragami bintoen, unggaragami bulan, unggaragami allo. / Iatonna dolona, masiang bangpa — tae' allo, tae' bongi. / Sirampanammi kapa' Arrangdibatu na Pong Bero-Bero. Dadimi Puang Matua Dolo disanga Puang Tongkon. /
5. Sirampanammi kapa' Puang Tongkon tu Tumba' Paparilangi'. Dadimi Puang Matua, To petiro aluk, dadi Indo' Samadenna, dadi Barrangdilangi'. / Malemi tama bulan Indo' Samadenna, male tama allo Barrangdilangi'. / Untiromi kuli'na langi' Puang Matua — manippi'pa kuli'na langi' tonna dolona./
6. Iatonna dolona dao langi', piong ba'tan bangpa dipobo'bo', dena' dipomanuk. / Dirtunnukmi riti bulaan, die'te'mi kala'siri lambe'. Kombongmi sauan sibarrung, ombo'mi tandasan sikori-kori. / Disondokammi sauan sibarrung daomai sepena langi'; ditampami kuli'na langi', disanga Patalabunga. /
7. Tiballa'mi rante masangka', tidandanmi buntu malangka'. / Ditampa nene'na batu disanga Patalabintin. / Ditampami aluk 7 lise'na, 7 pulona, 7 ratu'na, 7 sa'bunna, 7 kotekna, 7 tampangna,7 sariunna. /
8. Malemi nene'na sakke untongkonni sumengana lombok./ Diembongmi bulaan tasak sola nene' tang karauan. / Iamo ditampa nene'na bo'bo', disanga Bumbunganrante, diganti Datu Lamemme'./ Ditampami nene'na to lino, Datu Laukku'; nene'na tominaa La'langlangi', diganti Kambunolangi'. /
9. Ditampa nene'na to indo', Datu Mengkamma' (Karaeng Ma'loko-loko). /Ditampa nene'na to burake, disanga Killi'-Killi'. / Nene'na to ma'gandang, disanga Mandaikama. / Nene'na kaunan, disanga Pottokalembang, iamo to dipotedong-tedong uma, to dipokarambau tempe'. /
10. Tae'pa sambo boko'na tonna dolona. / Ditampami nene'na sampin, disanga Ungku, Rambutikembong tungka sanganna. / Rindingnami, sikasiri' datu, sikatumpu' ampu lembang. / Ditampami nene'na serre', disanga Datu Parerung. / Ditampami nene'na pangngan, disanga Kaise'. /
11. Ditampami nene'na punti, disanga Datu Marorrong; nene'na tallang, disanga Kumirrik; nene'na ao', disanga Ma'buku bulaan; nene'na induk, disanga Monggo; nene'na sendana, disanga Labengnga'; nene'na manuk, disanga Lua'kollong; nene'na asu, disanga Buriko'; nene'na bai, disanga Riwati; nene'na tedong, disanga Manturiri; nene'na ipo, disanga Datu Merrante, Allotiranda tungka sanganna; nene'na bassi, disanga Riako'. /
12. Malemi nene'na sendana ma'rampanan kapa' rekke tampona limbong, sirampanan kapa' Sendana Balo'. / Tang sandami rampanan kapa', iami sirampanan kapa' te anakna sauan sibarrung; untumangmi Datu Laukku' bomboan. / Nakande solanami manuk, katotok-totok lako sangserekanna, disangami Puang Maro. /
13. Urnbaliangammi batu ba'tangna Puangdilalundun, nakua: "Ba'tu la manannang tana' siai ungkambi' tutungan bia' siulu'ku?" / Dilando lalannimi Labiu-biu sola Adang Mangkakalena"'. / Kendekmi Labiu-biu patutungan bia', ba'tan bangpa tu naposuru' sola dena'. /
14. (Paami Datu Laukku', dibura' passakke deata, nakua: "Misami pulu'-pulu' pare,misa simanui tedong.Paami sanda mairi',naarrang tutungan bia'."Susinta to lino, ke denni salata, naarrangki' tutungan bia' — ko la paa batang dikaleta./
15. Malemi nene'na manuk sirampanan kapa' manukna Pong Pirikallo, londongna Pong Ondouai, manuk dadi lanmai kurin-kurin gallang, ombo' rikusi bulaan. / Dadimi tallo' siannanan, bamburang sikaruan. / Randukmi petanda masiang, nene'na manuk. / Randukmi nene'na bo'bo' umpangidenni pare bu'tu ri Tombang, pare to manglaa tedong. /
16. Randukmi nene'na manuk dinaran lolokna banni' rekke ulunna langi'. / Randukmi diborong-boronganni nene'na manuk: lotong: kambi'na rampanan kapa'; karurung: diposuru' kale; koro: kambi'na lemba kalando; rame: kambi'na sakke malino; lette' riri: kambi'na tallu bulinna; seppaga: kambi'na alang dibando;
17. burï: kambi'na ma'belo tadi; buri'tik: kambi'na tengko randuk; uranuran: kambi'na kombong masirri (induk); bu'ku': kambi'na doko maripi'; bulu tui: kambi'na ma'bala tedong; sa'pang: kambi'na datu matasak; lappung mabusa baba'na: kambi'na raukan tedong; pute: kambi'na tananan bua', ungkambi' lumbaa langi'; bullau: dipopetangka' ura'. /
18. Tiborongmi nene'na manuk. / Randukmi dipotangkean suru'. / Bendanmi suru'na uase to pande sola bingkung to manarang. / Malemi tama pangala' tamban Puang Paonoran, nakua: "Kayu apako te?" Nakuami mebali: "Kayu uru, dikombong pandoko dena'." Tae'pa nadisanga banua. Nakuaomi: "Kayu apako te?" Nakuami mebali: "Kayu betau". / Napasandami rere'na, napaganna' sanda karua. /
19. Napamuntui uase, napamuntui bingkung; apa manokapa ma'lingka. / Napatongkonmi dao kalandona buntu, untaan angin ma'kada tau. / Ma'kadami tu angin, nakua: "Ma'apako dao kalandona buntu, Puang Paonoran?" Mebali Puang Paonoran, nakua: "Inde kayu betau la kugaraga tau, apa tang ma'ulelean. La kutaanpa tu angin ma'kada tau, kupatamai batang dikalena." /
20. Nakuami angin ma'kada tau: "Den manii aluk musala, kumallaimo lan mai batang dikalena, mukuami: Mutoeanna' massangpali' rengnge'." / Nakuami Puang Paonoran ma'kada: "Dolo sala, undi mangaku, namakamban kande mammi'na Puang Matua." /
21. Nakuami angin ma'kada tau: "La ma'uai ma'tanmo' lan batang dikalena to, la ma'sakke tang tisenggongmo' lan tondon to batangna." / Sisulu'mi basse kasalle, angin ma'kada tau na Puang Paonoran, unnindo'mi pandan kabusungan. / Moi api sisulu' duka basse Puang Paonoran, nakua: "Pasambiri matako manii lako bangunan banua." Nakuami api: "Aa . . tontongna' diposukaran aluk, ke denni kapemalaran la . . . . " /
22. Sirampanammi kapa' anakna sauan sibarrung te kayu betau, sisangami sampu pentallun. / Dadimi anakna disanga Pande Patangnga'; unggaragami tandung tiulunna langi'. / Dadimi Pande Paliuk, unggaragami bangunan banua. / Nene'na tedong male ma'rampanan kapa' disanga Tele'pupu. /
23. Malemi Datu Laukku' rekke ulunna langi' sirampanan kapa' Kandomatua, ampona Pong Buatabang, nalolongi kada minnak. / Dadi Indo' Pare'- Pare' ungkambi' parekkean para, napotekken battu to. / Indo'na Manapa' ungkambi' surasan tallang. / Indo' Roatumbang ungkambi' bate manurun. / Landosamara ungkambi' raukan tedong. / Lua'toding ungkambi' tananan bua'./
24. Randukmi diboronganni tu sendana, naboronganni Pong Mulatau. / Sendana balo' ungkambi' surasan tallang. / Sendana lumu', ungkambi' tetean tampo. / Sendana dongka kumpang rampe matampu'. / Sendana lalong umpetajanni kakena bamba sola tarangga masiak./Sendana sugi' ungkambi' raukan tedong./ Sendana bonga malute ditoto parangka dialuk sola patangdo, ke denni tananan bua'. /
25. Diboronganni tu nene'na tedong. / Sambao': napopendio' talla' to ponto litakan, sulemi sangdunduan pindan. / Bulupunte' kambi'na raukan tedong. / Kullu kambi'na tananan bua'. / Pundulillin kumpang lako rampe matampu'. / Todi' sikambi' tana' bassi. / Bonga sikambi' tana' bulaan. /
26. Kendekmi sangga mairi' daa ulunna langi'. / Malemi Pong Mulatau tama tangngana langi', umpokinallo sukaran aluk, sirampanan kapa' Indo' Gori-Gori. / Dadimi Manurundilangi'. / Umpalumirikmi randanna langi' tangkean suru'. Pariami tangkean suru'. / Dadimi sembangan ongan. /
27. Bendanmi demmeran para. Paria demmeran para. / Dadimi surasan tallang. / Bendanmi bate manurun. / Bendanmi raukan tedong. Pariami raukan tedong. / Bendanmi tananan bua' dao tangngana langi'. /
28. Umbungka'mi ba'bana langi' Manurundilangi', ma'banua ditoke', ma'tondok dianginni. / Mailu matami rokko tangngana tasik. Nakua: "Diongri loka' la kunii malua' bingkung. Apa iari, ke napatuo ko'to'na' to kapadanganna diong, ke tang situru'na' kuli'na padang." / Diroromi buntu malangka', dipatendanmi saruran bulaan. / Kombongmi padang di Pongko', ombo'mi padang di Lebukan. /
29. Nakuami Manurundilangi': "Den omo te kapadanganna, apa tae'pa tu la kupolalan rokko." / Diulingmi eran dilangi', napolalan nene'ta situru' sukaran aluk. / Ia nene'na bai madangli' (mataku') unnola eran dilangi', unnola sepenami langi' nene'na bai, tiranduk ilan di Moriu, sirampanan kapa' Torateda', bai bu'tu ri Kanan. /
30. Ia nene'na tedong unnola rumassena buntu, tiranduk dio randanna langi', sirampanan kapa' tedongna Indo' Dure'- Dure', tedong mempodongan. / Keampo keanakmi tedong, unnorongimi tasik mapulu'; nene'na tedong tiranduk lan di Sinadi. / Ia nene'ta Manurundilangi' sirampanan kapa' Marrindiliku; undadiammi tau karua./
31. Misami tang ungkande makula', disanga Ranggauai; iamo disomba tallo'na manuk sola barra' dimamatai. / Malemi Saronglea langngan Bone, asu bangpa nasallang. / Male Datu Mangoting rokko Palopo, asu dukapa nasallang. / Male to tang kumande makula' lako Batuapian. / Male Pong Mulapadang lo' Rantebulaan. / Male Banggairante tama Siguntu'. / Male Pondanpadang tama Lino. / Male Pong Tambulibuntu tama Rura. / Male Tandiminanga rokko liku. /
32. Malingmi tau lo' Siguntu', sandami torro to kampin. Lindomi lindona Patundu' sola Sangga. / Nakuami to Sarombon, kadanna to Pasangbayu, to lao' bamba Siguntu':"La ma'patumbamo' inde,la ma'ruang diapamo'? Denmo te aluk kusala sangka' kutengkai kalo',kulamban pasala uma.
33. To malangi' ri bubungan,to tumbang ri papa tallang,bongsu' ri landa banua.To malangi' sao-sao, tumbang salamba-lambana; sao-sao langngan Bone, salamba langngan Balanda. Kenna tang manarang Sangga, kenna tang pande Patundu', ungkita dampinna Bugi', temme' ara'na Balanda." Nakuami to Patundu', kadanna Sanggaiolang: "Ma'dinko mangaku kumba', mangore tanda tinaran, unnaku kande limammu lako to petoe tabang". /
34. Nakuami to Patundu': "Tambaimoko to Mambo sola to Pong Beloaak. Ia patutungan bia', patandean sulo-sulo." / Rampo ma'rebongan didi, ia mangrampe letokan. / Salana pasandak salu — napopa'indo' tama rebongan didi. Salana ma'liu lima lako to petoe tabang, narebongi didi. Sandami nalindo bulanni, pantan nabarre alloi. /
35. Sulemi rampanan kapa'. Sulemi mellolo tau. / Sulemi doko maripi', rendenan tedong. / Sulemi tetean tampo, pesungan banne, nakadang tangkean suru', balo'na tutungan bia'. / Sulemi sangga mairi'. /
36. Bendanmi bate manurun, dipesung manuk, dipesung bai. / Tirandukmi nene' lan lino, tangkean suru' napomatanna lalan, lumepong tondok. / Bangunmi ma'tengko randuk.
37. Kendekmi kaise' ma'dandan. Saemi naala anakna to kengkok. Natiromi Marampiopadang tu kaise'na, madarang kebongi, namakamban keallo. Unnindanmi dokena Datu Nakka'. /
38. Naraukmi Marampiopadang tu anakna to kengkok. Nadaka'mi Datu Nakka' tu dokena, tae'mo natiro. / Ussorongmi rendenan tedong sola tetean tampo sola bulaan tasak, napengkanokai Datu Nakka'. / Ma'pasompok sorongmi Datu Nakka'. / Malemi Marampiopadang unnala bambalu toding sola ue sitammu bukunna. /
39. Randukmi manggaraga buria' Marampiopadang. Nabungkarammi Sampurari mangapi'na tana, ma'tetean ulangmi, ma'pelalan buria' rokko to kengkok. / Saemi rokko lólokna pao. /
40. Narangimi tu gandangna anak to kengkok. Nakuami Marampiopadang: "Mindara dipa'gandangan?" Nakuami to mangkambi' mebali: "Anakna Pong Tulakpadang dirauk dao langi'. Budamo to ma'dampinna natae' namaleke." / Nakuami Marampiopadang: "Laoko solanna'." Nakuami tu to mangkambi': "Benna' tu pao mai, kulao ussolangkomi."/
41. Saemi lako tondok, ma'kadami tu Marampiopadang, nakua: "Tae'pi aku tau dao banua, kumane ma'dampi." / Sae langngan banua, nasapu-sapumi, naalai tu dokena sule. / Sulemi kale datunna anak to kengkok, kendek marampa' langngan randanan, urnpotendeng tendengna. /
42. Dipokadammi saro tu Marampiopadang. Nakuami: "Samamo' misaroi, ke mipalendu'mi samaanna." / Massura' tallangmi; sandami diala tu belona surasan tallang. Natiromi Marampiodang, nakuami ma'kada: "Iamo pole' la saroku: tu belona kapemalaran." /
43. Mekutanami, nakua: "Apanna ditanan tu mati' punti?" Nakuami: "Oto'na". / Mekutanaomi tu Marampiopadang, nakua: "Na iatu induk?" Nakuami: "Belulukna ditanan." / Mekutanaomi tu Marampiopadang, nakua: "Na iatu sendana?" Nakuami: "Tangkena bang ditoto nadiosok." / Mekutanaomi, nakua: "Na iatu tallang?" Nakuami: "Oto'na bang ditanan." / Mekutanaomi, nakua: "Na apa tu unnoni?" Mebaliomi, nakua: "Gandang". /
44. Nakuami Marampiopadang, ma'kada: "Iamo pole' la saroku tu mintu'na tu." / Naalami Marampiopadang napatamai buria' tu sarona. Sulemi ma'tetean ulang, untintinmi gandangna. / Nakuami to kengkok: "Sae undampi kande limanna." / Sitammumi tananan mellao langi', tananan bu'tu ri lino. /
45. Napasulemi tu dokena Datu Nakka'. / Mamba'tami Marampio padang. Saemi uran. Nasembangi Datu Nakka' tu daunna Marampiopadang. Ma'kadami Marampiopadang lako Datu Nakka', nakua: "Pasuleanna' tu daunku, dokemu nakupasulean dukamoko!" Napasulemi Datu Nakka', apa malayumo. /
46. Ussorongmi iananna tu Datu Nakka', nokaomi Marampiopadang. Batang kalenami Datu Nakka' nasorong. Randukmi napotedong-tedong uma Marampiopadang tu Datu Nakka'. To maluangan batu ba'tangna tu Marampiopadang, nasangami anak. /
47. Umpala'pa'mi samaanna: ma'parakke para, massura' tallang, merok, ma'bate; pariami; bendanmi tananan bua'. Kendekpa sangga mairï' lan Rura, langnganpa pantan sola nasang. / Randukmi sirampanan kapa' Bombongberu' na Mellaolangi', napatudu leko' Pong Marattiatinting, nakua: "Dadimo anakmu baine sia muane, Londongdirura; pasirampananni kapa'." /
48. Sengkemi Puang Matua, nakua: "Umbamo papa rara'na tu to misa dikombong, dipasirampanan kapa'?" / Apa mandappi'pa langi' sola tana tonna dolona. / Nakuami Londongdirura: "Indemo tananan bua' papa rara'na." /
49. Nalambi'- mi pangandaran, tallanmi rokko liku to disalampe maniki. / Lampungmi Sokko Kalale' sola Indo' Pare'-Pare'. / Lampungmi tarukna La'bi Tombeng lako randanna langi'. / Karapa natang bendanpa eran dilangi', naola to situang tanduk langngan ba'tangna langi' . . . . /
50. Nakuami Puang Matua: "Umbako situang tanduk?" Mebalimi nakua: "Natumangkan kami Pong Marattiatinting." Nakuami Puang Matua: "Ina'pa kusanda malambi'. Lando lalanniko, Suloara' sola Buauran rekke ui'na padang di Sesean. Mupa'sarrinni sanda kadake Pong Marattiatinting sola Pong Marattiabonga.
51. Baai te kalosi kalebu, kalosi sangpiak, kalosi sangtepo, kalosi sangdaluk. / Ia la unnissan sampu pissan, sampu penduan. La mutanan tu kalosi. Ianna tuo tu kalebunna pamanda'i lan rampanan kapa' to siulu'. Ianna ia tuo tu sangpiakna, sampu pissan. Ianna ia tuo tu sangtepona, sampu penduan." / Pakalan sanglesona manna tuo na sangdalukna. /
52. Pakalan rampomi Suloara' sola Buauran patutungan bia'. / Rampomi ma'rebongan didi. Malingna Bombongberu' sola Mellaolangi' napopa'indo', tama rebongan didi. Balo'mi tutungan bia'. /
53. Sulemi Sokko Kalale' sola Indo' Pare'- Pare' nakadang tutungan bia': Ma'bua'mi Pondanpadang ,la'pa'mi Buntuarroan .Ia bua' dipasarra', samaa ditulu-tulu. Iamo bua' tang damma', samaa tang beluakan. Lao' bambana Lembang, kendekmi sangga mairi', naria tananan bua'.
54. Randuk tumengkami nene', tumengka sola alukna, lao sola bisaranna. Rampo ribamba Marinding, rampo ma'rampanan kapa', lako nene' Buenmanik. Nasalungan kada minnak,naria kada tangguli. Tumampa-mampami rara'. rumende-mende sarapang. Dadi taruk bulaanna.
55. Dadimi Tangdililing, Pasontik, Pong Seppabulaan, Pong Kalolokna sola Pussabannangna. / Iamo umbangun banua tu Pong Kalolokna sola Pussabannangna. Namale unnala tedong tama pangala'. / Nakuami Beka'-Beka' sola Maradonde': "Saemo ambe'ku umbaa tedong sola banua." / Male Pong Seppabulaan unnala bai rokko Moriu, nasanga burana lemba kalando. /
56. Napariaimi tangkean suru', natana' sarri', namasirri makamban. / Bendanmi sembangan ongan dialami ampo anakna susu ma'dandan, tang tirambanmi sangserekanna. Pariami sembangan ongan. /
57. Bendanmi surasan tallang. Paria surasan tallang. / Bendanmi raukan tedong. / Bendanmi bate manurun. Paria bate manurun. / Bendanmi tananan bua' lo' padang di Marinding.

nenek Moyang TO MANURUN (orang yang turun dari langit)






To Manurun adalah nenek moyang masyarakat Toraja.

Banyak legenda dan mitos yang menceritakan bahwa nenek moyang massyarakat Toraja memang berasal dari Langit (TO MANURUN). Namun sampai saat ini belum jelas adanya. Karna di berbagai daerah cerita tersebut mempunyai banyak versi tersendiri.

Kesu mengklaim To Manurun Manurun Di Langi’ adalah nenek moyang yang paling penting, sementara di Tallu Lembangna, Tamboro Langi' (Toma’ Banua ditoke’, Toma’ Tondok dianginni) lebih penting. Bagaimanapun bangsawan-bangsawan dari kedua area ini telah mengklaim bahwa Tomanurun mereka adalah pusat pemerintahan. Mereka tidak sependapat jika ada yang mengatakan bahwa To Manurun berasal dari bagian barat (Ullin).

Salah satu perbedaan  yang spesifik adalah tempat dimana pertama kali Tamboro Langi’ diturunkan. Menurut tradisi-tradisi bagian barat, ia turun di Ullin, suatu puncak di daerah Banga, dan membangun rumah di sana dengan istrinya, Sanda Bilik, yang muncul dari pertemuan sungai Sa'dan dan sungai Saluputti. Ullin juga dihubungkan dengan deata, yang dikatakan berkumpul ke sana tiap-tiap tahun setelah panenan.  

 Bangsawan di Tallu Lembangna, bagaimanapun, cenderung untuk mengaku Tamboro Langi’ tidak diturunkan di Ullin, tapi di Kandora. Beberapa versi mengatakan ia kemudian pindah ke Ullin, dan yang lain bahwa ia hanya di Kandora dan tidak pernah pergi ke barat sama sekali. 
  
Di daerah Saluputti, terutama Malimbong. Ullin membentuk suatu segi tiga dengan dua gunung yang lain mencapai puncak yang kelihatan dari Malimbong: Sado'ko' dan Messila. Di samping Tamboro Langi' dari Ullin, nenek moyang penting di silsilah-silsilah Saluputti adalah Gonggang Sado'ko', yang turun di Sado'ko' dan menikah dengan wanita yang muncul dari kolam yang bernama Marrin di Liku. Dalam sebuah cerita Gonggang diklaim sebagai manusia yang pertama di atas bumi di Toraja bagian barat, dan memiliki enam belas anak-anak, sebagian memiliki nama-nama dari dewata-dewata dalam versi Toraja.

 Alm. Mangesa mantan Kepala Desa Malimbong (1965-71), yang mengakui dirinya keturunan generasi yang ke sebelas dari Gonggang, menurutnya karna memelihara kekuatan supranaturalnya, sehingga Gonggang masih hidup pada waktu invasi Arung Palakka. Tetapi di dalam silsilah-silsilah dari beberapa orang di Ullin, ia bukan To Manurun, tetapi sebagai cucu laki-laki Tamboro Langi'. Gunung yang ketiga, Messila, juga dihubungkan dengan Tomanurun, Kila' Ta'pa ri Ba'tang.



 Menurut silsilah mereka yang berasal dari Lion, Rorre dan Lemo, Makale Utara, Puang Kila’ Ta’pa Ri Batang menikah dengan Marring di Liku dan memiliki 4 orang anak masing-masing Sadodo’na’, Batotoi Langi’, Pulio dan Palandangan. Palandangan lalu menikah dengan Batan di Lomben melahirkan Arung (Pangala Tondok di Rorre), Para (Pangala Tondok di Lemo) dan Lembu’bu’ yang kemudian menikah dengan Patantan dan melahirkan Saarongre yang menjadi Pangala Tondok di Lion Tondok Iring.

Hanya sedikit yang diketahui tentang to manurun.


 Di desa Malimbong pada waktu dari ambil alih Belanda, ada dua Tongkonan Layuk yang bersaing mana yang paling utama, Pasang dan Pokko', dekat Sawangan. Silsilah Pasang memulai dengan Gonggang Sado'ko', Pokko dengan nenek moyang yang lain yaitu Pa'doran. Keturunan-keturunan dua Tongkonan ini cenderung untuk memperbesar pentingnya nenek moyang mereka sendiri, selagi menertawakan kisah-kisah tentang yang lain. Pa'doran dikatakan dilahirkan dua generasi setelah Gonggang, tetapi juga memimpin pasukan Gonggang di dalam peperangan melawan terhadap Bone. Ia bukan to manurun, tetapi to mendeata, karena ia telah menerima kuasa-kuasa dari deata dalam mimpi. Ia bisa berjalan beberapa mil-mil di dalam suatu langkah dan mempunyai kekuatan supranatural. Jika ia berdiri di Sado'ko', ia bisa menjangkau Messila di dalam suatu langkah, dan dengan langkah ketiga berada di Ullin. 

 Beberapa cerita tentang Pa'doran dihubungkan dengan fitur lokal dari daerah sekitarnya. Segala hal yang ia katakan akan terjadi.
  Ketika ia berkata, "Kerbauku adalah besar", dengan segera menjadi mahabesar, dan ketika ia berkata, "Kerbauku akan membuat suatu gunung dengan tanduknya", kerbau mengombang-ambingkan kepalanya dan menanduk dua kerut yang besar dengan tanduknya. Bukit ini kemudian diberi nama disebut Buttu Susu, suatu daerah di Malimbong. Di dalam versi yang lain, tandukan kerbau itu menjadikan Buttu Susu, Bea dan Matande; galiannya membentuk gunung yang disebut Gattungan, dekat Buttu Susu. Pa'doran tidak pernah menikah. Ia benci untuk busuk pada kematian, dan sebagai gantinya ia menyuruh keluarganya untuk membuat suatu keranjang yang khusus untuk dia. Ia lalu memanjat ke dalamnya dan berubah menjadi batu. Keranjang ini masih disimpan di dalam tongkonan Pokko', dan hanya dapat dilihat jika ada upacara sesaji. Penduduk meyakini bahwa ketika satu gemetaran bumi dirasakan di sini, ini berarti bahwa Pa'doran sedang keluar dari keranjang untuk berjalan-jalan, lalu koin yang berderik terdengar di dalam rumah. 

 Satu lain kepada manurun di Malimbong dihubungkan dengan tongkonan pada Parinding di Sa'tandung.  Batotoilangi' (Muncul dari langit) menikahi seorang wanita yang bernama Mandalan i Limbong, yang muncul dari mata air alami, yang sampai sekarang masih digunakan sebagai mata air oleh penduduk desa di Parinding. Mereka mempunyai delapan anak. Suatu hari, Batotoilangi' diserang oleh bau dari pemangangan daging anjing, dan ia pun kembali ke langit, sedang istrinya kembali ke air. Banyak pamali dihubungkan dengan rumah, tidak hanya memakan daging anjing, tetapi juga tikus (tikus ladang dikonsumsi dibeberapa bagian di Toraja), keong-keong, atau daging dari pemakaman. Juga terlarang untuk meludah di lokasi rumah. Pasangan pendirian hal ini, menurut penghuni- rumah, hidupsekitar sebelas generasi yang lalu, pada waktu yang sama seperti  Gonggang Sado'ko'. Sebelum pergi, Batotoilangi' memberitahu orang-orang bahwa mereka akan tahu ia masih di sekitar ketika mereka mendengar guntur atau ketika hujan. Jika seekor ayam dikorbankan di sini, bahkan di musim kemarau, konon gerimis turun. Ketika pelangi, selalu muncul dengan salah satu ujungnya pada lokasi dari rumah yang asli, meregang diatas pohon banyan yang tumbuh di sampingnya. Jika keturunan-keturunan dari rumah melihat suatu pelangi setelah membuat sesaji, ini berarti bahwa Batotoilangi' dan deata sudah menerimanya. Di masa. lalu, tongkonan memiliki banyak budak berkait dengannya, yang semua tinggal di bukit dimana tongkonan itu berdiri. 

 Tidak susah untuk melihat bagaimana dongeng ini dan kisah-kisah, silsilah-silsilah dijadikan kekuatan politis dari tongkonan bangsawan, yang dilayani untuk mengangkat dan membenarkan status kebangsawanan mereka. kisah – kisah mistik lebih lanjut ditambahkan pada harta benda/pusaka-pusaka rumah ini (sampai para anggota generasi yang lebih muda menyerah kepada godaan untuk menjual sebagian dari barang – barang kepada penyalur-penyalur seni yang internasional). Apakah para pahlawan mereka adalah manusia nyata, atau apakah kisah-kisah itu diciptakan pertama dan nama-nama yang ditempelkan kemudian di dalam silsilah-silsilah, yang mustahil untuk ditebak. Seperti Pa'doran atau Batotoilangi', sudah sangat melokalisir reputasi-reputasi; yang lain seperti Tamboro Langi' atau Laki Padada, mempunyai suatu ketenaran yang menyebar luas dan dihubungkan dengan banyak tongkonan bersama-sama. Hubungan ini pada waktu tertentu dipertunjukkan dan diperbaharui di dalam upacara-upacara, seperti ketika pada Bulan Januari 1983, diatas 100 kelompok keturunan dari tongkonan yang terkenal pada Nonongan yang dikumpulkan untuk merayakan pembangunan rumah tongkonan. Tidak banyak Toraja dapat melacak koneksi-koneksi pada  rumah ini dan pendirinya, Manaek, tetapi maka kaleng keluarga-keluarga yang kerajaan dari Luwu', Goa dan Bone, semua mengutus wakil-wakilnya di upacara itu. Pihak Luwu' bahkan membawa seekor babi yang sangat besar. Melalui kehadirannya, mereka mengakui keturunan mereka dari Laki Padada, seperti juga hubungan mereka melalui perkawinan dengan orang golongan lain dengan kebangsawanan Toraja.